Pembiayaan produktif dalam industri pinjaman daring (pindar) di Indonesia masih belum mencapai target yang ditetapkan. Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), porsi pembiayaan pindar untuk sektor produktif dan UMKM hanya mencapai 33,83% dari total outstanding yang ada. Meskipun angka ini menunjukkan progres, namun masih jauh dari target yang ingin dicapai yaitu 40%-50% pada periode 2025-2026.

Tantangan yang Menghambat Target

Menurut Ketua Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Entjik S. Djafar, kendala utama yang menghambat pencapaian target adalah ketidakpastian kondisi ekonomi. Baik secara domestik maupun global, melambatnya pertumbuhan ekonomi berdampak langsung terhadap penyaluran pembiayaan. Hal ini juga menyebabkan meningkatnya tingkat kredit macet (NPL).

“Kami terus menerus mengingatkan anggota kami agar tidak terlalu ekspansif dalam menyalurkan pembiayaan. Kami menyarankan untuk tetap konservatif dengan memperhatikan faktor prudent dan comply,” ujar Entjik.

Fokus pada Sektor Multiguna

Meski begitu, fintech lending yang berfokus pada sektor multiguna ternyata juga memberikan pembiayaan untuk sektor produktif. Berdasarkan data AFPI, sekitar 30%-40% dari total outstanding mereka dialokasikan untuk sektor produktif. Contohnya, pembiayaan diberikan kepada pelaku usaha kecil seperti pedagang nasi uduk, pedagang bakso, pengusaha rumahan, penjahit bordir, dan lainnya.

Edukasi dan Literasi Keuangan

Perusahaan fintech seperti PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) juga aktif dalam mendorong pengguna untuk menggunakan pinjaman secara bijak. Brand Manager AdaKami, Jonathan Kriss, menjelaskan bahwa perusahaan tersebut terus melakukan edukasi dan literasi keuangan kepada pengguna.

“Kami secara aktif mendorong pengguna untuk memanfaatkan pinjaman secara bijak dan produktif melalui kegiatan edukasi dan literasi keuangan,” kata Jonathan.

Perkembangan Pembiayaan Produktif

Sebagai informasi, pembiayaan pindar untuk sektor produktif mengalami penurunan dibandingkan Mei 2025 lalu, saat porsinya masih mencapai 34,91%. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh industri pindar agar bisa mencapai target yang telah ditetapkan.

Langkah Kebijakan yang Diperlukan

Untuk mencapai target tersebut, diperlukan langkah-langkah kebijakan yang lebih efektif. Selain itu, kolaborasi antara lembaga keuangan, pemerintah, dan pelaku industri pindar sangat penting dalam memastikan pembiayaan dapat dialokasikan secara tepat dan efisien.

Dengan adanya kesadaran akan risiko dan tanggung jawab, serta upaya penguatan regulasi dan pendidikan keuangan, diharapkan sektor pindar dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.