Kisah Pilu Selvi Mawarni Zai: Duka yang Tak Terbawa oleh Waktu

Selvi Mawarni Zai, seorang perempuan dari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kini harus menghadapi penderitaan terberat dalam hidupnya. Tragedi bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 menjadi momen yang tak terlupakan bagi keluarganya. Dalam kesedihannya, ia harus berjalan kaki dari Tarutung, Tapanuli Utara, menuju Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), hanya untuk menemukan rumahnya yang rata dengan tanah.



Selvi, yang mengenakan kaus merah muda, duduk lemah di kursi plastik hijau. Wajahnya memerah karena lelah dan air mata yang tak lagi mampu ia tumpahkan. Ia bercerita tentang hari naas Selasa, 25 November, saat hujan deras mengguyur tanpa henti, dan tebing di balik rumahnya runtuh menimbun keluarganya. Delapan hari penuh harap dan cemas, jenazah ayah, ibu, dan adiknya yang berusia 16 tahun baru ditemukan pada Jumat, 3 Desember 2025.

Perjalanan yang dilalui oleh Selvi dan suaminya yang tinggal di Medan sangat berat. Mereka harus menempuh perjalanan berat, berjalan kaki dari Padangsidimpuan melewati jalan yang terputus dan penuh longsor, hanya untuk sampai ke rumahnya di Tapteng, yang kini menjadi saksi bisu tragedi itu.

“Kami berjalan kaki dari Tarutung, Taput, dan menginap di pengungsian, lalu melanjutkan perjalanan ke rumahnya di Pandan, Tapteng. Jalan yang kami lalui penuh dengan longsor dan putus,” ujar Selvi dengan suara bergetar.



Kepedihan Selvi tidak berhenti di situ. Ia harus menyewa alat berat sendiri untuk evakuasi jenazah keluarganya. Hal itu karena bantuan pemerintah yang lamban dan belum datang. Bantuan makanan pun harus mereka cari dengan mengutip donasi di jalanan.

“Belum ada bantuan dari pemerintah. Kami bahkan harus membeli air bersih karena pasokan sangat sulit,” kata Selvi lirih.

Kini, Selvi dan warga sekitar hanya berharap pemerintah segera hadir membantu mereka membersihkan material longsor dan memulihkan kehidupan yang hancur. Tragedi ini bukan hanya tentang longsor yang menelan nyawa, tapi juga tentang ketabahan dan perjuangan seorang keluarga yang berjuang melawan duka dan keterbatasan di tengah bencana.

Rincian Perjalanan yang Penuh Duka

  • Perjalanan Berat: Selvi dan suaminya harus berjalan kaki dari Tarutung, Taput, dan menginap di pengungsian sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahnya di Pandan, Tapteng.
  • Jalan yang Rusak: Jalur yang dilewati penuh dengan longsoran tanah dan batu, serta jalan yang putus.
  • Pengeluaran Tambahan: Selvi harus menyewa alat berat untuk evakuasi jenazah keluarganya karena bantuan pemerintah yang terlambat.
  • Keterbatasan Sumber Daya: Bantuan makanan dan air bersih sangat sulit diperoleh, sehingga mereka harus mencari donasi di jalanan.
  • Harapan akan Bantuan: Selvi dan warga sekitar berharap pemerintah segera hadir untuk membantu membersihkan material longsor dan memulihkan kehidupan yang hancur.

Tragedi ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya persiapan dan respons cepat dalam menghadapi bencana alam. Semoga kepedihan yang dialami oleh Selvi dan keluarganya dapat segera berlalu, dan semangat untuk bangkit kembali bisa segera pulih.