Pameran Paradiso di ARMA Ubud Menggambarkan Kegelisahan Seniman Bali

Pameran seni yang berjudul Paradiso kini hadir di Agung Rai Art Museum (ARMA) Ubud, Gianyar. Pameran ini menampilkan karya-karya dari enam perupa asal Bali yang bekerja sama dalam menghadirkan 24 lukisan terbaru mereka. Pameran ini akan berlangsung selama dua pekan, mulai tanggal 6 Desember hingga 21 Desember 2025.

Para seniman tidak hanya sekadar memamerkan karya mereka, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan melalui goresan dan imajinasi mereka tentang fenomena kekinian yang sedang terjadi di Bali. Mereka merenungkan berbagai isu seperti perubahan nilai, degradasi budaya, serta kerusakan lingkungan yang semakin nyata.

Bali, yang dikenal sebagai surga terakhir atau the last paradise, kini menjadi sasaran perhatian para seniman untuk menyampaikan kegelisahan mereka. Tema Paradiso dipilih sebagai tajuk pameran ini, yang berasal dari trilogi Divine Comedy karya Dante. Menurut Arya Suharja, penulis kuratorial pameran tersebut, tema ini menjadi wadah bagi seniman-seniman untuk menyampaikan kekhawatiran mereka secara artistik.

Beberapa perupa yang terlibat dalam pameran ini antara lain I Wayan Santrayana, I Made Gunawan, I Ketut Suasana “Kabul”, I Ketut Suwidiarta, I Made Sutarjaya, dan I Wayan Gede Budayana. Masing-masing dari mereka memiliki pendekatan unik dalam menggambarkan fenomena yang sedang melanda Bali.

Ketut Suasana “Kabul” misalnya, menggambarkan harapan dan idealisme tentang alam Bali yang seharusnya harmonis dan lestari. Dalam karyanya, ia menggunakan gambar lebah sebagai simbol keindahan dan ancaman. Lebah, yang memiliki madu dan racun, menjadi representasi dari alam yang bisa memberi dan juga merusak.

“Saya ingin mengajak audiens kembali sadar tentang ancaman krisis alam,” ujar Kabul, demikian panggilan akrabnya.

Di sisi lain, I Wayan Santrayana mengangkat isu perubahan nilai dalam kehidupan manusia. Ia mengeksplorasi bagaimana seks, yang awalnya dianggap sebagai surga manusia untuk regenerasi, kini lebih sering digunakan untuk rekreasi. Hal ini menjadi tema dalam salah satu karyanya yang dipamerkan dalam pameran ini.

Sementara itu, I Made Sutarjaya menampilkan imajinasinya tentang sosok penari. Baginya, tarian adalah bentuk keindahan yang sempurna. Namun, ia menyebut bahwa tari-tarian Bali kini semakin jarang dikagumi, bahkan oleh masyarakat Bali sendiri.

“Tetapi belakangan ini, tari-tarian Bali sudah tidak banyak lagi dikagumi, termasuk oleh orang Bali sendiri. Saya menampilkan sosok penari berselimut cahaya yang memudar,” ujarnya.

Direktur Museum ARMA Ubud, Anak Agung Gede Yudi Sadona, menjelaskan bahwa pameran Paradiso lahir dari diskusi dengan seniman-seniman tentang fenomena yang sedang terjadi di Bali. Para seniman kemudian merespons dengan menciptakan karya-karya yang akhirnya ditampilkan dalam pameran ini.

“Sebagai direktur museum dan juga penikmat seni, saya selalu tertarik dengan bagaimana para seniman itu memberikan kritik dan pesan dengan cara yang kreatif. Kami berbahagia karena pameran ini dapat diselenggarakan di Museum ARMA,” kata Yudi Sadona.

Pameran Paradiso resmi dibuka pada Minggu, 6 Desember 2025, dan akan berlangsung hingga Minggu, 21 Desember 2025. Selama periode tersebut, pengunjung dapat menyaksikan karya-karya seniman Bali yang penuh makna dan pesan mendalam tentang kondisi saat ini.