Memahami Impostor Syndrome dan Tipe-Tipenya

Banyak orang merasa bahwa segala pencapaian yang diraih masih belum cukup, bahkan sering mempertanyakan apakah mereka layak mendapatkannya. Kondisi ini dikenal sebagai Impostor Syndrome, yaitu ketika seseorang merasa bahwa kesuksesan yang diraih tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Istilah “impostor” kembali menjadi perbincangan hangat setelah munculnya game Among Us yang viral di media sosial. Namun, istilah Impostor Syndrome sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Pauline Clance dan Suzzanne Imes pada tahun 1978. Penyebab dari kondisi ini bisa bervariasi, seperti perfeksionisme, persaingan ketat di lingkungan, evaluasi eksternal, serta kurangnya dukungan dari keluarga.

Pada tahun 1983, Dr. Valerie Young mengelompokkan Impostor Syndrome menjadi lima tipe berbeda. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing tipe tersebut:

5 Tipe Impostor Syndrome Menurut Dr. Valerie Young

  1. The Perfectionist

    Tipe ini merasa belum sukses jika melakukan kesalahan atau pekerjaan belum sempurna sepenuhnya. Mereka biasanya kesulitan mendelegasikan tugas, memiliki ekspektasi tinggi, dan menganggap kesalahan kecil sebagai kegagalan.

  2. The Superhero

    Mengukur kesuksesan dengan kontribusi terbesar, menangani semua hal dengan baik, dan selalu unggul di mana pun. Orang dengan tipe ini merasa tidak nyaman saat tidak bekerja keras dan berusaha lebih keras daripada orang lain.

  3. The Natural Genius

    Merasa rendah diri ketika membutuhkan waktu lebih lama dibanding orang lain. Mereka senang menjadi yang pertama dalam sesuatu tanpa usaha berlebihan. Tipe ini cenderung monoton dan enggan mencoba hal baru, serta menghindari tantangan yang belum dikuasai.

  4. The Soloist

    Percaya bahwa semua pekerjaan harus dilakukan sendiri, merasa bersalah saat meminta bantuan orang lain. Mereka lebih suka bekerja mandiri daripada bekerja dalam tim, meskipun membutuhkan bantuan.

  5. The Expert

    Selalu ingin mengumpulkan semua informasi sebelum bertindak dan merasa tidak kompeten jika tidak tahu segalanya. Meskipun sudah ahli, mereka tetap merasa tidak cukup baik dan terus belajar, namun masih merasa “tidak cukup baik”.

Bagaimana Cara Menghadapi Impostor Syndrome?

Apakah kamu merasa terhubung dengan salah satu tipe Impostor Syndrome? Jika iya, penting untuk menyadari bahwa bakat, kecerdasan, atau keterampilan yang dimiliki tidak akan pernah memenuhi standar yang kamu buat sendiri.

Coba fokus pada proses dan pertumbuhan, bukan hanya hasil akhir. Berbicara tentang perasaanmu, berbagi keluh kesah, dan mencintai diri sendiri dapat membantu. Temukan sistem pendukung yang dapat memberimu dukungan emosional, serta rayakan setiap pencapaian kecil yang berhasil kamu raih.

Dengan kesadaran dan perubahan pola pikir, kamu dapat mulai mengurangi rasa “impostor” dan merasa lebih percaya diri atas apa yang telah kamu capai.