Perayaan Ulang Tahun BRI yang Berbeda

Di Bulukumba, angin sore berembus pelan, membawa aroma kopi dari warung sekitar dan percakapan kecil para peserta yang sudah berdiri membentuk lingkar-lingkar kecil. Di Lapangan Tennis BRI, Jl. Jenderal Sudirman, Kelurahan Terang-terang, Kecamatan Ujung Bulu, kursi plastik mulai ditata. Panggung sederhana berdiri, membawa suasana berbeda: bukan konser, bukan rapat formal, tapi sebuah perayaan—ulang tahun BRI yang tahun ini diperingati dengan cara yang sangat Nusantara: pertandingan domino.

Domino, permainan yang akrab di emper warung dan bawah pohon kampung, malam itu naik podium. Bukan lagi sekadar hiburan, ia menjadi ruang temu BRI Link dan karyawan, menyatukan mereka dalam ketegangan angka, ketukan kartu, dan tawa yang meluber.

Silaturahmi yang Ditumbuhkan di Atas Meja Kartu

Zaenal Arifin, Kepala Cabang BRI Bulukumba, berdiri di hadapan peserta. Kalimatnya mengalir, lugas dan mengandung harapan. “Kegiatan ini untuk mempererat silaturahmi dan sinergitas sesama BRI Link. Semoga kegiatan maupun silaturahmi ini tidak berakhir di sini sehingga kita bersama-sama membuat Bulukumba lebih maju. BRI hadir untuk seluruh masyarakat Bulukumba,” ucap Zaenal Arifin.

Di balik ucapannya, terbayang gagasan besar: bank tidak hanya tentang tabungan, kredit, atau aplikasi, melainkan tentang manusia—tentang jabat tangan yang tersambung, hubungan yang dijahit pelan-pelan lewat ruang pertemuan seperti ini.

Di sudut lain, A. Wawan Patoppoi—ketua panitia yang malam itu sibuk memastikan kartu tidak tertukar dan meja tidak kosong—tersenyum lebar saat mikrofon sampai ke tangannya.

Domino sebagai Ruang Pertemuan

“Domino bukan sekadar silaturahmi biasa, namun ini hal yang sangat luar biasa. Ini olahraga yang bisa mengasah otak. Secara pribadi saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pimpinan cabang atas kepercayaan ini,” ujar Wawan. “Semoga BRI Cabang Bulukumba tetap menjadi representasi bagi masyarakat dalam menawarkan solusi terbaik dari yang terbaik.”

Ia menutup sambutan, dan riuh tepuk tangan menjawabnya. Lampu stadion menyala, kartu domino pertama diletakkan di meja, dan kompetisi dimulai. Suara ketukan kartu di papan meja terdengar seperti langkah-langkah kecil menuju keakraban.

Satu Per Satu Peserta Maju

Satu per satu peserta maju, menatap kartu seperti menatap teka-teki hidup. Ada yang tertawa keras saat berhasil menutup seri, ada pula yang mengelus dagu, menahan kecewa karena angka tidak berpihak.

Antara tawa, strategi, dan kopi panas, suasana semakin hangat. Malam semakin tua. Kopi kembali diseduh. Lampu-lampu jalan menyala. Anak-anak melongok dari luar lapangan, penasaran dengan sorakan yang muncul setiap beberapa menit sekali.

Domino sebagai Magnet Sosial

Domino berubah menjadi magnet sosial: menarik, menyatukan, merawat kebersamaan dengan cara yang paling manusiawi. Di akhir acara, para peserta berfoto bersama. Senyum terangkat lebih tinggi dari trofi yang dipegang oleh pemenang. Tidak ada podium emas, tidak ada kembang api seperti final liga besar, tapi ada rasa hangat yang jarang kita temukan di acara formal: rasa memiliki.

BRI Bulukumba malam itu seperti rumah yang merangkul siapa pun yang datang—BRI Link, karyawan, hingga masyarakat. Sebuah pesan tak terucap namun terasa: Bulukumba tidak hanya dibangun oleh bangunan dan proyek besar, tetapi juga oleh hal-hal sederhana—kartu domino, tawa, dan silaturahmi.

Domino ditutup, tapi hubungan tetap dibuka.