Sejarah Unik Nama Depok

Kota Depok, yang berbatasan dengan Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Bogor, memiliki sejarah nama yang menarik. Kata “Depok” bukan sekadar nama daerah, melainkan singkatan dari bahasa Belanda: De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen, yang berarti “Organisasi Kristen Protestan Pertama” dalam bahasa Indonesia.

Sama seperti Jakarta yang sering disingkat menjadi “JKT”, nama Depok juga memiliki akar sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perkembangan agama Kristen Protestan di masa kolonial. Peran penting dalam sejarah ini tidak lepas dari Cornelis Chastelein, seorang pegawai VOC yang bekerja selama dua dekade.

Perjalanan Cornelis Chastelein

Cornelis Chastelein memulai kariernya sebagai pengawas gudang hingga akhirnya menjadi saudagar utama dan anggota Dewan Kota Batavia. Kepandaiannya dalam mengelola keuangan membawanya untuk membeli sejumlah tanah di sekitar Batavia. Dalam buku Depok Tempo Doeloe (2011), disebutkan bahwa tanah pertama yang dibeli Chastelein pada tahun 1693 berada di kawasan Weltevreden (kini Gambir). Dua tahun kemudian, ia memutuskan pensiun dan membeli lagi tanah di Serengseng, yang sekarang dikenal sebagai Lenteng Agung. Di sanalah ia membangun rumah besar dan menetap bersama keluarganya serta sekitar 150 budak yang dibebaskannya.

Keberanian dan Kemanusiaan

Sejarawan Tri Wahyuning M. Irsyam dalam buku Berkembang dalam Bayang-Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950–1990-an (2017) menulis bahwa Chastelein adalah sosok yang sangat menghormati budaknya. Sebagai seorang Kristen yang taat, ia memahami nilai kemanusiaan dan akhirnya memerdekakan seluruh budaknya.

Bekas budak tersebut kemudian diamanahkan untuk mengelola rumah besar di Serengseng serta perkebunan di Mampang dan Depok. Dari lahan itu, mereka menanam komoditas bernilai tinggi seperti tebu, lada, pala, dan kopi, yang membuat Chastelein kian makmur.

Wasiat dan Pengabdian

Sebelum meninggal dunia pada 28 Juni 1714, Chastelein telah menulis surat wasiat pada 13 Maret 1714. Dalam surat tersebut, ia menyatakan bahwa seluruh harta dan tanahnya akan dibagikan kepada keluarga dan para bekas budak yang telah dimerdekakan. Selain agar mereka hidup mandiri, ia juga ingin wilayah itu menjadi pusat penyebaran agama Kristen di Batavia.

Lahirnya Komunitas Depok

Sebagai bentuk penghormatan terhadap amanat itu, para bekas budaknya mendirikan komunitas bernama De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen. Dari sinilah nama Depok berasal — sebuah singkatan yang menggambarkan lahirnya komunitas Kristen Protestan pertama di wilayah itu.

Komunitas ini kemudian dikenal dengan sebutan “Belanda Depok”, dan wilayahnya berkembang menjadi kota yang kita kenal sekarang. Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai versi baru tentang arti nama Depok, termasuk tafsir populer yang menyebutnya sebagai “Daerah Permukiman Orang Kota”, meski versi aslinya tetap berasal dari bahasa Belanda.