Penurunan Tingkat Hunian Hotel Selama Nataru 2026 di Kabupaten Bandung

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung, Wawan A Ridwan, menyampaikan bahwa meskipun terjadi lonjakan kunjungan wisatawan selama momen Natal dan Tahun Baru 2026, tingkat hunian hotel justru mengalami penurunan.

“Ya, Nataru tahun ini dari sisi pergerakan wisatawan itu memang seperti biasa. Kabupaten Bandung ini kebagian macet, kemudian padat, serta volume kendaraan yang melimpah,” ujar Wawan kepada wartawan di Soreang, Rabu 31 Desember 2026.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak sejalan dengan tingkat hunian hotel yang justru mengalami penurunan sekitar 30%. Meski begitu, pihaknya masih menunggu data final, terutama dari malam tahun baru dan akhir pekan, termasuk libur Isra Miraj.

Wilayah Ciwidey dan Pangalengan menjadi tujuan favorit wisatawan pada momen libur Natal 2025, Tahun Baru 2026, dan juga libur sekolah. “Wilayah Pacira itu hampir 100 ribu lebih, kemudian di Pangarengan itu 90 ribu lebih, beda sedikit lah. Yang jadi favorit seperti kawah putih, glamping, mimo, ranca upas, pinta kamelia itu ada kepadatan,” jelasnya.

Wawan menduga banyak wisatawan yang hanya singgah atau melewati Kabupaten Bandung untuk menikmati keindahan alam jalur selatan. Dibandingkan tahun sebelumnya, kata Wawan, kunjungan wisatawan saat Nataru kali ini lebih rendah karena berbarengan dengan masa sekolah.

Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan kunjungan antara lain isu kebencanaan dan situasi ekonomi yang kurang stabil. Target pergerakan wisatawan ke Kabupaten Bandung tahun 2025 sendiri sudah tercapai, yaitu 7 juta orang, tetapi tidak diiringi dengan lama tinggal dan pengeluaran yang signifikan.

“Targetnya semua orang itu bisa menghabiskan 1 juta di tempat wisata,” harap Wawan.

Meski demikian, Wawan mengakui bahwa pedagang kecil di sepanjang jalur selatan merasakan dampak positif dari peningkatan pergerakan wisatawan, terutama mereka yang menjual kopi dan makanan ringan.

Potensi Pendapatan Daerah dari Sektor Pariwisata

Wawan juga menyinggung soal potensi pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang bisa mencapai Rp 150 hingga 200 miliar. Isu kebencanaan dan cuaca ekstrem menjadi faktor penyebabnya menurunnya angka kunjungan wisatawan di Kabupaten Bandung.

Menurut Wawan, infrastruktur di wilayah Pangalengan dan Ciwidey relatif baik. Kendala utama justru berasal dari faktor eksternal seperti cuaca dan internal seperti keramah-tamahan serta praktik pungutan liar dan harga yang dinaikkan saat musim liburan.

“Ini menjadi PR masyarakat kita, tidak hanya di Kabupaten Bandung saja,” tegasnya.

Pihaknya berharap kejadian tidak menyenangkan pengunjung yang sempat terjadi di wilayah selatan dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih memberikan kenyamanan bagi wisatawan.

Upaya Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

Disparekraf sendiri telah berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui Kelompok Penggerak Sadar Wisata (Kompepar), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta melibatkan aparat desa, kecamatan, dan tokoh masyarakat.

Selain Pangalengan dan Ciwidey, Disparekraf juga tengah memfokuskan pengembangan desa wisata yang menawarkan kearifan lokal, budaya, keramah-tamahan, dan hiburan yang original.

  • Pembenahan infrastruktur di wilayah wisata
  • Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap layanan wisata
  • Pengembangan desa wisata dengan konsep lokal
  • Pengendalian harga dan pungutan liar selama musim liburan
  • Kolaborasi dengan organisasi dan komunitas lokal