Peningkatan Serapan Belanja K/L Menjelang Akhir Tahun

Serapan belanja kementerian dan lembaga (K/L) menunjukkan peningkatan signifikan menjelang akhir tahun. Situasi ini memicu pemerintah untuk lebih ekstra hati-hati dalam mengelola permintaan anggaran tambahan yang terus berdatangan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa intensitas pengajuan dana dari K/L meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai konsekuensi dari percepatan realisasi belanja negara.

“Terus terang kita (Kementerian Keuangan) agak keteteran tuh karena mereka (K/L) minta duit terus, minta duit terus. Jadi kita agak kendalikan sedikit,” ujar Purbaya.

Serapan Akhir Tahun Dinilai Lebih Siap

Menurut Purbaya, tingginya permintaan anggaran mencerminkan kesiapan K/L dalam mengeksekusi program. Ia menilai pola ini berbeda dibanding awal tahun, saat realisasi belanja cenderung lambat.

Ia juga menyinggung adanya kekhawatiran di internal K/L terkait risiko pemotongan anggaran apabila belanja tidak terserap maksimal. Situasi tersebut mendorong percepatan belanja menjelang tutup tahun anggaran.

“Apalagi mereka takut kalau nggak bisa belanja, saya potong anggarannya. Jadi tahun depan mereka pasti akan lebih baik,” kata Purbaya.

Tidak Ada Perubahan Postur Fiskal

Meski tekanan permintaan meningkat, pemerintah memastikan tidak ada perubahan postur fiskal dalam waktu dekat. Purbaya menegaskan APBN tetap berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan.

“Jadi kita belum adjust APBN yang ada sekarang,” ujarnya.

Pengembalian Anggaran dari Sejumlah K/L

Di tengah percepatan belanja, Kementerian Keuangan juga mencatat adanya pengembalian anggaran dari sejumlah K/L. Hingga Selasa (16/12), total dana yang dikembalikan mencapai Rp 4,5 triliun.

Pengembalian tersebut menunjukkan bahwa tidak semua unit kerja mampu menyerap anggaran secara optimal. Namun, pemerintah menilai kondisi ini masih dalam batas wajar dan tetap terkontrol.

Target Pertumbuhan Ekonomi 2025 dan 2026

Di luar dinamika belanja negara, Purbaya tetap percaya diri terhadap arah perekonomian nasional. Ia menargetkan pertumbuhan ekonomi 2025 tetap berada di kisaran 5,2 persen.

Lebih jauh, Purbaya membuka peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus 6 persen pada 2026, meski asumsi resmi pemerintah dalam APBN 2026 berada di level 5,4 persen.

“Sekarang saya kan sedang hidupkan semua mesin ekonomi. Fiskal sudah mulai jalan, moneter sudah semakin sinkron, iklim investasi akan diperbaiki,” jelasnya.

Keyakinan Terhadap Target Pertumbuhan Ekonomi

Ia menutup dengan keyakinan bahwa target tersebut realistis jika koordinasi kebijakan terus diperkuat dan belanja negara mampu memberi efek dorong yang konsisten ke sektor riil.

“Saya tetap melihat 6 persen bukan angka yang mustahil untuk 2026,” pungkas Purbaya.