Masalah Pariwisata Alam Indonesia yang Tersembunyi
Masalah pariwisata alam di Indonesia tidak hanya terletak pada keindahan alam yang tidak sebanding dengan negara lain. Menurut Benny Batara, atau lebih dikenal sebagai Bennix, dalam sebuah video di YouTube-nya, masalah utama sektor ini adalah mentalitas jangka pendek. Hal ini mencakup pungli, premanisme, dan praktik getok harga yang merusak pengalaman wisatawan.
Salah satu contoh nyata dari masalah ini adalah Grojogan Sewu. Selain tiket masuk yang dinilai mahal, wisatawan juga harus menghadapi biaya tambahan di berbagai titik. Biaya parkir bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Harga makanan juga melonjak secara tidak wajar. Semua pihak berlomba memperoleh keuntungan dengan cara yang tidak adil.
“Inilah mentalitas yang membuat orang kapok,” ujar Bennix dengan tegas. Ia menyebut praktik ini sebagai bom waktu. Meskipun sekali dua kali wisatawan masih datang, setelah itu cerita buruk akan menyebar. Dampaknya sangat nyata. Banyak UMKM di sekitar Grojogan Sewu kini tutup. Bahkan, pelaku yang dulu ikut menikmati keramaian kini merasakan efek terburuk ketika wisatawan pergi.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, praktik serupa juga terjadi di banyak destinasi lain. Air Terjun Tumpak Sewu sempat viral karena tarif masuk mencapai Rp150 ribu. Curug Nangka di Bogor juga menuai kritik akibat harga tiket hampai Rp60 ribu.
Padahal, wisata alam seharusnya menjadi hiburan rakyat. Bukan arena jebakan biaya berlapis. Bennix membandingkan kondisi ini dengan era kelam parkiran liar di kawasan Senayan sebelum dibenahi secara profesional.
Selain mahal, aspek keamanan juga menjadi sorotan. Insiden banjir air bah di Grojogan Sewu yang menelan korban jiwa membuat wisatawan semakin takut. Jalur licin, tangga curam, dan minim investasi keselamatan menjadi kombinasi mematikan.
“Orang datang mau happy, bukan pulang jadi mayat,” ujar Bennix dengan nada getir. Menurutnya, wisata alam Indonesia gagal naik kelas karena tidak berpikir jangka panjang. Semua ingin untung cepat hari ini, tanpa peduli dampak besok. Akibatnya, destinasi indah berubah jadi cerita horor.
Peluang Besar yang Terlewat
Padahal, peluangnya sangat besar. Jika dikelola secara profesional, sektor pariwisata bisa menjadi mesin ekonomi daerah, menyerap tenaga kerja, dan menghidupkan UMKM secara berkelanjutan. Namun, tanpa keberanian untuk membersihkan pungli dan premanisme, pariwisata Indonesia akan terus jalan di tempat, bahkan mundur.
Grojogan Sewu hanyalah satu dari sekian banyak alarm yang sudah berbunyi keras. Masalah ini tidak hanya terjadi di satu tempat, tetapi merambat ke seluruh penjuru Indonesia. Perlu adanya perubahan drastis dari segala pihak, baik pemerintah maupun masyarakat lokal, agar pariwisata alam dapat benar-benar berkembang dengan baik.

Tinggalkan Balasan