Pengalaman Langsung Mahasiswa dalam Program Duta Minerba Goes to Site 2025

Pagi yang berkabut di Bakan tampak ceria, menyambut sejumlah mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia yang datang untuk melihat Tambang J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) di Bakan. Rombongan ini terdiri dari sepuluh mahasiswa yang terpilih untuk mengikuti program Duta Minerba Goes to Site 2025, yang berlangsung pada Jumat, 5 Desember.

Program ini diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, bertujuan memberikan pemahaman langsung kepada mahasiswa tentang penerapan Good Mining Practices serta Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di industri pertambangan. Selama kunjungan, mereka meninjau aktivitas penambangan, reklamasi, lokasi pembibitan, serta berinteraksi dengan masyarakat di desa lingkar tambang. Setelah dari Sulawesi Utara, rombongan melanjutkan kunjungan ke lokasi tambang lainnya di Indonesia sebagai bagian dari pembelajaran nasional menuju praktik pertambangan berkelanjutan.

Mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai kota seperti Palangka Raya, Banda Aceh, Makassar, Manado, hingga Papua. Mereka membawa satu rasa ingin tahu: bagaimana sebenarnya praktik pertambangan yang dijalankan dengan baik dan bertanggung jawab?

Saat memasuki ruang pertemuan, suasana formal langsung mencair. Andreas Saragih, General Manager External Relation & Security PT JRBM, menyambut tanpa jarak. Ia berbicara bukan sebagai pejabat perusahaan, melainkan sebagai seorang senior kampus yang berbagi pengalaman. “Saya dulu juga mahasiswa seperti kalian,” ujarnya sembari memperkenalkan stafnya. “Dan saya tahu pengalaman seperti ini akan membekas lama setelah kalian kembali ke kampus.”

Andreas menjelaskan bahwa JRBM selama ini konsisten mendukung pendidikan dan program pengembangan kapasitas muda, termasuk magang dari berbagai universitas, serta program edukasi JRBM Menginspirasi ke sekolah-sekolah yang mengangkat tema lingkungan dan pertanian.

Setelah sesi induksi keselamatan, rombongan bergerak menuju Mining View Point, titik tinggi yang memperlihatkan keseluruhan lanskap operasi penambangan. Dari ketinggian itu terlihat bukit hijau berdampingan dengan area tambang yang tertata rapi, jalur haul road bergaris melingkar, truk-truk tambang berkapasitas puluhan ton bergerak teratur, dan zona operasi yang terpisah jelas dari area hijau.

Bagi banyak peserta, pemandangan itu mengubah cara pandang yang selama ini hanya dibentuk oleh perdebatan di ruang kuliah atau persepsi publik yang kerap keliru. Sita Ayu Paramitha, mahasiswa Universitas Hasanuddin, menatap ke bawah sebelum berucap pelan, “Program ini benar-benar membuka cara pandang saya. Banyak sekali stigma negatif tentang industri tambang yang beredar di publik, tapi saya melihat langsung bagaimana praktik pertambangan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya pulang dengan perspektif baru, bahwa industri ini tidak hitam putih, dan kita perlu melihat fakta di lapangan sebelum menilai,” ujar mahasiswa jurusan Komunikasi asal Makassar ini.

Kunjungan berlanjut ke bukit reklamasi yang kini kembali hijau, tempat yang beberapa tahun lalu merupakan lokasi penambangan aktif. Pepohonan muda tumbuh rimbun, semak berbunga mengisi sela tanah, dan suara burung kembali terdengar. Tsaniya Najwa Khofifan dari Universitas Sam Ratulangi mengusap batang pohon yang masih berembun. “Kunjungan ini sangat membekas karena saya melihat bukti nyata, bukan hanya teori. Terutama saat melihat area reklamasi, saya sadar bahwa pemulihan lingkungan bukan sekadar wacana tapi kerja panjang yang terukur. Saya merasa terinspirasi dan ingin menjadi bagian dari generasi yang ikut mendorong praktik pertambangan berkelanjutan,” kata mahasiswi yang satu ini.

Namun pelajaran paling emosional justru hadir pada hari kedua ketika rombongan menuju Desa Matali Baru dan Mopusi, desa lingkar tambang yang menjadi lokasi utama Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Di kebun kakao Matali Baru, para mahasiswa berjalan di bawah rimbun pepohonan. Oslan Paputungan, petani kakao, berkisah tentang perjalanan panjang sejak 2018. “Kami mengusulkan program kakao, dan JRBM merespons cepat dengan bibit dan pendampingan. Sekarang lebih dari 120 hektare kakao berkembang. Banyak yang dulu meragukan, tapi sekarang hasilnya bisa dirasakan,” ujarnya.

Ronny Kobandaha, konsultan kakao JRBM, menambahkan bahwa dari 220 batang awal, kini hampir 1.000 batang produktif tumbuh, dan delapan petani sudah meningkatkan kualitas hidup keluarga mereka. “Semua bermula dari perubahan cara pikir. Kalau mindset berubah, teknologi ikut berubah,” kata Ronny yang dijuluki para petani dengan sebutan Profesor Kakao.

Para mahasiswa terdiam mendengarkan, menyadari bahwa pengelolaan tambang yang baik bukan hanya soal peralatan besar dan proses produksi, tetapi juga bagaimana perusahaan memperlakukan masyarakat sebagai mitra jangka panjang. Rahmad Ilham, mahasiswa Universitas Palangka Raya, menutup perjalanan dengan refleksi kuat, “Saya datang jauh dari Kalimantan dan melihat bahwa tambang tidak selalu berarti kerusakan. Jika dikelola dengan benar, tambang bisa menjadi sumber kehidupan. Saya pulang dengan tugas untuk bercerita berdasarkan apa yang saya lihat sendiri.”