Perjalanan Pasar Saham yang Penuh Emosi

Pasar saham baru saja menutup salah satu pekan paling brutal di tahun 2025. Puncaknya adalah ‘Jumat Berdarah’, 17 Oktober 2025, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seolah ‘terjun bebas’, anjlok -2,71% dalam satu hari.

Banyak investor ritel yang mungkin bingung dan bertanya: “Kenapa saham hari ini turun drastis?” atau “Kenapa saham bagus seperti BBRI dan BMRI ikut-ikutan longsor?”. Jawabannya seringkali bukan pada laporan keuangan, tapi pada dua emosi primitif yang mengendalikan bursa: Keserakahan (Greed) dan Ketakutan (Fear).

Apa yang kita saksikan seminggu terakhir adalah pelajaran psikologi trading paling sempurna. Mari kita bedah ‘Fear & Greed’ di balik apa yang baru saja terjadi.

Fase 1: ‘GREED’ (Keserakahan) – Pesta Pora di Saham ‘Ajaib’

Selama awal pekan lalu, pasar dikuasai oleh ‘Greed’ atau keserakahan. Investor seolah lupa daratan, didorong oleh rasa takut ketinggalan kereta (FOMO – Fear Of Missing Out). Perhatian pasar terpusat pada saham-saham yang naik secara gila-gilaan.

Saham ‘Ajaib’ WIFI:
Menjadi ‘dewa’ baru di bursa, naik Auto Reject Atas (ARA) berjilid-jilid dengan nilai transaksi harian tembus triliunan rupiah.

Geng Saham Barito (BREN, CUAN, TPIA):
Menjadi lokomotif yang menopang IHSG sendirian.

Pada fase ini, keserakahan mengambil alih. Investor ritel berbondong-bondong ‘beli di pucuk’, berharap harga akan terus naik. Mereka mengabaikan sinyal bahaya dan valuasi yang sudah tidak masuk akal. Ini adalah puncak ‘Greed’, di mana pasar sedang sangat euforia.

Fase 2: ‘FEAR’ (Ketakutan) – ‘Jumat Berdarah’ dan Aksi Panik Jual

Setiap pesta keserakahan akan berakhir. Pada hari Jumat, ‘Big Money’ atau bandar yang sudah mengumpulkan barang di harga bawah, memutuskan pestanya usai.

Mereka melakukan aksi ambil untung (profit taking) besar-besaran secara bersamaan.

Inilah yang terjadi:

WIFI ‘dibanting’ dari langit, anjlok -470 poin.

Geng Barito (BREN, BRPT, CUAN, CDIA) yang semula ‘dewa’, serentak ‘longsor’ berjamaah dan menjadi pemberat utama IHSG.

Saat inilah emosi pasar berbalik 180 derajat. ‘Greed’ berubah menjadi ‘Extreme Fear’. Kepanikan menyebar dengan cepat. Investor yang tadinya FOMO, kini panik ingin menyelamatkan modal (panic sell). Mereka tidak lagi berpikir rasional.

Inilah jawaban “kenapa investor panik jual”. Saat ‘Fear’ menguasai, investor ritel akan menjual apa saja, termasuk saham-saham bagus seperti BBRI, BBNI, dan BMRI yang fundamentalnya kuat, yang akhirnya ikut terseret longsor.

Pengecualian: Saat ‘Fear’ Berkuasa, ‘Smart Money’ Bergerak (Kasus BBCA)

Di tengah ‘kiamat’ ritel, para ‘Smart Money’ (investor institusi/asing) justru berpikir jernih. Mereka melakukan apa yang disebut ‘Flight to Quality’.

Lihat saja saham BBCA. Di saat seluruh bursa ‘kebakaran’, BBCA justru ditutup hijau, naik +200 poin. Mengapa? Karena investor asing melakukan aksi borong masif senilai Rp 1,16 triliun. Mereka ‘kabur’ dari saham-saham ‘gorengan’ yang berisiko tinggi dan memindahkan uang mereka ke ‘benteng’ yang dianggap paling aman di Indonesia: BBCA.

Pelajaran dari Pekan Ini

Pasar saham digerakkan oleh siklus ‘Fear’ dan ‘Greed’.

Saat semua orang serakah dan pamer keuntungan dari saham yang naik gila-gilaan (Greed), itulah saatnya Anda untuk paling waspada.

Saat semua orang ketakutan, membanting harga saham bagus, dan berita di mana-mana negatif (Fear), itulah saatnya Anda mulai mencari peluang untuk ‘menyerok’ barang berkualitas di harga diskon, seperti yang dilakukan asing pada BBCA.

Memahami psikologi ini adalah langkah awal untuk berhenti menjadi ‘makanan’ di bursa dan mulai berinvestasi dengan kepala dingin. **

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi berdasarkan data historis dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua keputusan investasi adalah tanggung jawab penuh investor (DYOR).