Koperasi Merah Putih Melawai: Alternatif Belanja yang Menarik Perhatian

Gedung Blok M Hub, yang terletak di Jl Sultan Hasanuddin, Melawai, Jakarta Selatan, baru saja selesai direnovasi. Di antara ratusan ruko yang berada di pusat perbelanjaan populer era 1980-an ini, terdapat sebuah kios kecil dengan latar belakang tembok berwarna merah-putih yang menarik perhatian pengunjung.

Pukul 14.15 WIB, Tim Bisnis mengunjungi kios tersebut. Rak-rak tampak rapi dan bersih, menyajikan berbagai produk kebutuhan sehari-hari seperti sembako dan produk UMKM lokal. Penjaga kasir serta petugas lainnya tersenyum ramah saat melayani pengunjung.

“Di sini kami menjual berbagai produk sembako dan makanan umum. Yang membedakan adalah produk dari UMKM,” ujar Retno, penjaga kasir Koperasi Merah Putih Melawai, saat ditemui pada Senin (13/10/2025).

Koperasi Merah Putih Melawai menjual berbagai kebutuhan pokok seperti beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang merupakan program pemerintah yang dijalankan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog. Ada juga gula, minyak goreng, tepung, ketan hitam, dan susu dari Food Station. Bahan pangan mentah seperti bawang kering bisa dipesan melalui sistem pre-order.

Di rak bagian kanan, terdapat kemasan berwarna-warni yang berisi nasi goreng instan, mie sagoo, ayam rujak beku, serta camilan buatan UMKM lokal. Retno menyebut bahwa barang-barang di koperasi ini lebih terjangkau dibandingkan toko-toko lain. Misalnya, harga minyak goreng satu liter di koperasi hanya Rp15.700, lebih rendah dari rata-rata harga di luar yang mencapai Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.

Meski belum sepenuhnya ramai, Koperasi Merah Putih Mulai menjadi alternatif belanja bagi masyarakat sekitar Melawai. Retno mengakui bahwa lonjakan pembeli biasanya terjadi di akhir pekan. Orang dewasa hingga anak muda sering menjadikan tempat ini sebagai lokasi melepas penat setelah melakukan tugas kuliah atau menyelesaikan deadline pekerjaan.

“Paling ramai di Jumat, Sabtu, Minggu. Biasanya anak muda yang nongkrong di sekitar sini mampir beli minuman,” katanya.

Retno juga menyebut bahwa banyak koperasi kelurahan lain yang datang berkunjung untuk belajar dan bertanya tentang sistem di sini. Meskipun belum membuka toko fisik seperti Koperasi Merah Putih Melawai, mereka sudah mulai aktif merekrut anggota. Mereka percaya bahwa Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi gerbang dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat, terlebih dengan dukungan penuh dari pemerintah.

Dampak Ekonomi dan Digitalisasi

Direktur Kebijakan dan Program Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Piter Abdullah, menyatakan bahwa aktivitas koperasi akan berdampak pada perputaran ekonomi di desa/kelurahan. Kehadiran koperasi tidak langsung membuka lapangan kerja, tetapi efek berganda dari aktivitas itu kemudian menciptakan lapangan kerja baru.

Contohnya, ketika KDMP Melawai menjual produk UMKM dan hasil panen petani, maka UMKM dan petani membutuhkan tenaga kerja tambahan. “Efek bergandanya banyak. Tugas kita adalah menjaga ide besar ini agar dapat dilaksanakan secara murni. Jangan sampai ada penyimpangan,” kata Piter.

Ia juga menyoroti sentuhan digital di dalam KDMP. Menurutnya, langkah ini dapat membuat tata kelola koperasi menjadi lebih baik dan transparan. Pemerintah dapat memantau secara terukur barang-barang yang ada di koperasi dan mengirimkan logistik sesuai kebutuhan. “Dengan adanya digitalisasi tata kelola akan jauh lebih baik, hasilnya pasti lebih baik, dan berdampak pada kesejahteraan semua anggota,” kata Piter.

Pelatihan dan Dukungan Pemerintah

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi, Boni Pudjianto, mengatakan bahwa Komdigi secara bertahap telah mendukung program KDMP. Sampai saat ini, Komdigi menjangkau dua koperasi desa, yaitu di Kota Malang dan Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Komdigi memberikan pelatihan literasi digital bagi SDM koperasi desa secara langsung (luring). Hal ini karena skema luring lebih optimal untuk interaksi dengan peserta sehingga mereka tidak jenuh dan mendapatkan praktik langsung. Tidak menutup kemungkinan pelaksanaan secara daring jika tersedianya koneksi internet dan perangkat yang memadai dari para peserta pelatihan.

Boni mengatakan bahwa dengan pelatihan langsung dan materi relevan, program ini telah memberikan dasar yang kokoh bagi penguatan kapasitas digital koperasi desa, sekaligus menjadi langkah awal menuju transformasi digital dalam perekonomian desa. “Kami terus berupaya memberikan yang terbaik sehingga dapat berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kesejahteraan anggota koperasi,” katanya.

Percepatan Pembangunan Gudang dan Gerai

Di sisi lain, menjelang 1 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Raka, Kementerian Koperasi (Kemenkop) tengah mempercepat finalisasi draft Instruksi Presiden (Inpres) terkait percepatan pembangunan gudang-gudang dan gerai dari KDMP.

Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menjelaskan bahwa keberadaan Inpres tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mempercepat pemerataan ekonomi dan memperkuat rantai pasok pangan, serta distribusi produk lokal melalui penguatan peran strategis KopDes/Kel Merah Putih.

Ferry memastikan pembangunan gudang dan gerai milik KopDes/Kel Merah Putih akan melibatkan kontraktor-kontraktor lokal dan masyarakat desa sebagai upaya dalam menggerakkan dan mensejahterakan masyarakat. Dia berharap, dengan lebih dari 82.024 KDMP yang telah terbentuk di Indonesia, percepatan pembangunan gerai, pergudangan, dan sarana pendukung koperasi dapat dilakukan secara strategis, terpadu, dan terkoordinasi antar kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. “Tujuannya, guna menciptakan sistem ekonomi desa yang produktif dan berdaya saing,” pungkasnya.

Danantara dan Kementerian Keuangan memberikan dukungan kepada KDMP melalui pendanaan. CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan bahwa dukungan tersebut akan dilakukan dengan skema penggunaan dana APBN. Menurutnya, Kemenkeu selaku otoritas fiskal bakal mengalokasikan dana desa bagi masing-masing koperasi yang ada, kendati tak menjawab saat ditanya mengenai besaran anggaran yang dialokasikan. “Pembangunan ini berasal dari dana desa yang akan dialokasikan melalui Kementerian Keuangan dengan atas dasar dari setiap desa dalam pengalokasiannya,” ujar Rosan.