Kelangkaan Solar dan Harga Pertalite yang Melonjak di Minahasa Tenggara

Kondisi kelangkaan solar dan harga Pertalite yang melonjak hingga Rp 18.000 per liter di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, telah menjadi perhatian masyarakat setempat. Dampaknya terasa signifikan, terutama pada sektor perikanan dan usaha kecil. Namun, Pertamina telah memberikan penjelasan terkait situasi ini.

Sejak tanggal 15 Oktober 2025, seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Minahasa Tenggara kembali beroperasi secara normal. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi penyaluran dan ketersediaan BBM jenis Biosolar dan Pertalite sudah kembali stabil.

“Kami memastikan bahwa seluruh SPBU di wilayah tersebut telah kembali menyediakan BBM secara lancar,” ujar Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, T. Muhammad Rum, dalam keterangan persnya.

Pertamina juga menjelaskan bahwa terdapat dua lembaga penyalur resmi di wilayah Ratotok, yaitu SPBU Nelayan 7895902 dan Pertashop 7P95904. Kedua tempat ini bertugas menyalurkan BBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Secara bulanan, Pertamina menyalurkan Biosolar sebanyak 128.000 liter dan Pertalite sebanyak 461.000 liter untuk memenuhi kebutuhan warga Ratatotok dan sekitarnya. Meski begitu, masyarakat tetap diimbau untuk membeli BBM hanya di lembaga penyalur resmi milik Pertamina, bukan melalui pedagang eceran.

Sebelumnya, kelangkaan solar dan kenaikan harga Pertalite mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. Di sektor perikanan, misalnya, nelayan kesulitan untuk melaut karena tidak adanya pasokan solar. Randy, seorang warga Ratatotok, mengungkapkan kesulitannya pada Senin, 13 Oktober 2025.

“Susah sekali sekarang. Solar tidak ada sama sekali, padahal itu yang kami pakai untuk melaut,” kata Randy dikutip dari Tribun Mitra, Selasa (14/10/2025).

Selain itu, harga Pertalite yang sangat tinggi juga menjadi masalah bagi masyarakat. Randy menambahkan bahwa bahkan jika tersedia, harga Pertalite terlalu mahal untuk dibeli.

Penyebab dan Dampak Kelangkaan BBM

Beberapa faktor bisa menjadi penyebab kelangkaan solar dan kenaikan harga Pertalite. Salah satunya adalah distribusi BBM yang tidak merata atau gangguan logistik. Selain itu, permintaan yang meningkat di tengah musim tertentu juga bisa memicu kenaikan harga.

Dampaknya sangat nyata, terutama bagi masyarakat kecil yang bergantung pada BBM untuk keperluan sehari-hari. Aktivitas ekonomi seperti perdagangan dan transportasi terhambat akibat keterbatasan pasokan dan harga yang tidak terjangkau.

Solusi dan Langkah yang Dilakukan

Pertamina telah melakukan langkah-langkah untuk memastikan pasokan BBM kembali stabil. Dengan operasional SPBU yang kembali normal, masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan BBM tanpa harus menghadapi antrian panjang atau harga yang tidak wajar.

Selain itu, Pertamina juga mengajak masyarakat untuk mempercayai saluran resmi mereka. Hal ini dilakukan untuk mencegah praktik penyalahgunaan dan menjaga stabilitas pasar BBM.

Kesimpulan

Kelangkaan solar dan kenaikan harga Pertalite di Minahasa Tenggara telah menjadi isu penting yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Namun, dengan tindakan cepat dari Pertamina, situasi kini mulai pulih. Masyarakat diharapkan dapat tetap waspada dan memanfaatkan layanan resmi Pertamina untuk memenuhi kebutuhan BBM mereka.